Tuesday, September 13, 2011

(JURNAL) Juara 3 Taekwondo @ITATS 2009

Yang akan ku ceritakan adalah salah satu kisahku yang cukup menarik. Bagiku, kisah ini akan selalu terkenang dalam benakku untuk beberapa tahun kedepan, paling tidak sampai cidera tangan kiriku ini sembuh total. Aku masih ingat persis bagaimana detil-detil rentetan peristiwa itu, bagaimana beruntungnya diriku. Mendapatkan Juara 3 Fly Putra di Kejuaraan Taekwondo SMA se-Jatim.
Semua berawal saat aku ketinggalan bis yang berangkat menuju ke ITATS Surabaya, tempat dimana kejuaraan berlangsung. Pagi itu aku bangun telat, dan aku tak punya kendaraan pribadi untuk menyusul bis tersebut. Jadi aku paksa salah satu temanku dengan sepeda motornya untuk mengantarku ke tempat di mana bis yang akan mengantarku itu sudah berhenti setengah jalan karena menungguku. Bis ini bis yang memang sudah kami sewa untuk mengantar kami: satu team Taekwondo SMA Antartika Sidoarjo.
Gelanggang arena pertandingan terlihat sangat luas saat itu. Aku beruntung, karena mendapatkan bay pada sesi pertama pertandingan itu. Ini berarti aku langsung lolos menuju ke sesi kedua tanpa bertanding, how lucky! Dalam pertandingan ini aku masuk dalam kategori Fly Putra, karena beratku cuma 50 kg. Dan dari teamku, hanya dua orang termasuk diriku yang termasuk Fly Putra. Yang satu itu namanya Hero; salah satu teman baikku, juga salah satu kartu as dalam team-ku karena kemampuan bertandingnya yang memang sangat kami kagumi.
Wah enak ya loe, dapet bay. Gak percuma waktu berangkat tadi kamu telat, hehe,” ujar Hero padaku pada saat pemanasan.  “Iya dong! Hehe,” jawabku nyengir dan balik bertanya, “Jadi gimana bro, ente sudah siap belom?”
“Siap dong! Siap! Siap! Siap!,” dengan semangat Hero seperti biasanya. “Pasti menang!”
Sip! Gitu dong!” kataku tak mau kalah. “Sekarang aku kan udah menang tanpa tanding neh. Kalau kamu mau ketemu aku di final, kamu harus menang terus sampe kita ketemu di final! Oke?”
 “Lho? Kamu dapet bay cuma untuk sesi ke satu kan? Bukannya untuk ke final kamu masih harus melewati dua pertandingan lagi??”
“Heeee, pertandinganku yang kedua maupun yang selanjutnya aku pasti menang kok! Hehe,” jawabku sangat optimis.
“Beneran lho ya! Janji lho ya!”
Beneran! Ntar kita berdua ketemu di final lho ya,” ujarku sambil menerawang langit-langit. ”Bayangkan, pertandingan final dimana kedua peserta dari team yang sama, memperebutkan juara satu dan dua. Itu aku dan kamu, oke ga?”
“Okeeeeee! Kita ketemu di final kan! Jangan sampe kalah ya sebelum ketemu aku di final nanti! Semangat!”
Itulah percakapan singkat kami berdua sebelum pertandingan pertama dimulai. Janji kami berdua, salah satu motivasi kami untuk terus maju sampai ke final…………
----------------------------------------------------------------------------------------- 



Seluruh penonton bersorak setelah kemenangan gemilang yang di raih Hero pada pertandingan pertamanya saat itu. Hero memang hebat, menang dengan selisih 12 poin, apalagi hanya menyisihkan satu poin untuk musuhnya. Sesi pertama pun berakhir. Dan dalam chart pertandingan, sesi kedua dimulai dengan pertandingan pertamaku.
Yak, aku siap!” seruku meyakinkan diriku sendiri. Ketika namaku di panggil, aku bergegas menaiki arena pertandingan. Pertandinganku segera di mulai. Seluruh pandangan penonton berpusat ke tempat dimana aku dan lawanku berdiri. Ini pertandingan pertamaku, baru pertama kali ini aku di perhatikan oleh seluruh orang-orang waktu itu. Jelas aku gugup sekali saat itu.
Sang wasit menyatukan kepalan kedua tangannya sambil meneriakkan “FIGHT!”, yang artinya ‘silahkan bertarung!’. Sorak-sorai para penonton mulai menggema, sangat rame! Di salah satu sisi arena aku mendengar team-ku menyanyikan yell-yell untuk mendukungku. Aku pun teringat akan betapa hebatnya Hero pada kemenangannya barusan. Hero memang sangat bersemangat untuk mendapatkan juara kali ini. Sama sepertiku, ini pertama kalinya ia mengikuti suatu kejuaraan Taekwondo.
“Oke! Aku tak boleh mengecewakan mereka. Ayo menang!” dengan teriakan semangatku, aku langsung menerjang lawanku dengan tendangan awalku.
Entah mengapa aku begitu bersemangat untuk menang saat itu. Semakin gencar sorak sorai para penonton, semakin panas semangatku yang mengalir masuk ke dalam aliran darahku, ke bilik-bilik jantungku, masuk ke dalam ubun-ubunku, hingga ke ujung-ujung syaraf motorikku. Semakin mengalir, semakin hilangkan semua gugupku, semakin membuatku on fire! Aku terus menyerang musuhku dengan seluruh teknik-teknik tendangan yang paling ku kuasai. Dan lawanku, dia pendekar yang terlalu defensif, hanya menghindar tak pernah menyerang. Aku terus menendang dan menendang, sampai keenakan, sampai loncat-loncat memburu lawanku, hehe.
Inilah kesalahan fatalku. Seharusnya aku tak perlu loncat-loncat seperti itu. Aku terlalu terbawa suasana karena semangatku dan lawanku yang dari tadi defensif hanya menghindar tak pernah menyerang. Aku kebanyakan menendang sambil loncat-loncat sampai suatu saat kehilangan keseimbangan saat mendarat. Aku pun jatuh, dan tangan kiriku secara reflek langsung menumpu ke bawah, dengan niat mengurangi rasa sakit yang akan kuterima jika aku jatuh ke bawah.
Tapi kenyataannya lain. Tangan kiriku tak kuat menerima beban jatuhku itu. Alhasil, aku merasakan sakit yang luar biasa pada pergelangan tangan kiriku. Aku berteriak. Wasit menghentikan pertandingan. Dan tim medis pun menghampiriku…
Bagaimana nak?” ujar salah satu yang menghampiriku.
Sakit pak, ini sakit sekali pak,” jawabku sambil menunjukkan pergelangan tangan kiriku yang sedikit bergetar dengan sendirinya.
“Dimana bagian yang sakit?”.
Aku langsung menunjuk bagian yang sakit, “Yang ini pak.” Pelatihku lalu menyemprotkan suatu cairan dari sebuah alat yang sampai sekarang aku lupa menanyakan apa namanya. Mungkin suatu alat pertolongan pertama untuk patah tulang. Rasanya sangat dingin, merasuk ke kulit sampai ke bagian tanganku yang sakit.
“Bagaimana sekarang?” tanya pelatihku.
Rasanya dingin,” jawabku polos.
Bisa nggak tanganmu itu menggenggam seperti ini?” pinta pelatih sambil memperlihatkan bagaimana kuatnya ia mengepalkan tangannya. Aku tak tahu apa maksudnya, tapi aku segera melaksanakan perintahnya. Ku kepalkan tanganku dengan kuat-kuat, kepalan tanganku itu sedikit bergetar. Aku mulai takut, karena aku tak bisa merasakan sensasi kepalan tanganku meskipun aku megepalkannya dengan kuat-kuat. Aku tak lagi merasakan semangat yang barusan mengalir panas ke dalam kepalan tanganku. Seakan saraf semangat pada tanganku itu sudah putus.
Tapi aku diam saja. Aku tak mau mundur hanya karena cedera seperti ini. Pertandingan ini harus ku lanjutkan. Aku harus menang! Sudah ada yang menungguku di final, hehe.
“Bagaimana Rad? Masih bisa lanjut?” tanya pelatihku. Aku langsung bangkit berdiri dan dengan semangat yang masih menggebu-gebu. “Yak! Siap!”
Wasit pun hanya manggut-manggut. Beliau memangilku untuk segera ke tengah arena bersama lawanku yang sudah menunggu di sana. Sang wasit berkata, “Waktunya sudah habis, dan poin kalian seri. Jadi kita akan adakan babak tambahan yaitu sudden death untuk menentukan siapa yang memenangkan pertandingan ini.”
Para penonton tak lagi rame seperti biasanya. Mereka diam dalam penantian. Seluruh pusat perhatian tertuju kepada aku dan lawanku di tengah arena. “FIGHT!” sang wasit kembali menyatukan kepalan kedua tangannya. Sudden death itu siapa yang paling duluan mendapatkan poin, satu poin pun, dialah pemenangnya. Yak, ini adalah saat-saat penentuan. Harus ekstra hati-hati! Sambil menahan rasa sakit pergelangan tanganku, aku hanya diam menanti timing yang tepat untuk mencuri poin. Begitu juga dengan lawanku. Dia diam seperti benteng yang kokoh, defensif seperti biasanya.
Hampir satu menit lamanya kami hanya diam saling pandang. Gelanggang pun masih sunyi. Para penonton sepertinya tak mau melewatkan saat-saat penting, dimana salah satu dari kami dengan kecepatan kilatnya, berhasil mencuri poin. Kami berdua memang harus hati-hati saat ini, masing-masing dari kami jangan sampai lengah sedikitpun, jangan sampai kecolongan satu poin pun.
Tapi aku mulai bosan. Kalau diem-dieman seperti ini terus, ya kapan selesainya? Dengan semangat yang masih on fire, dan dengan nekat yang tak terbendung, aku langsung maju menerjang tiba-tiba dengan satu tendangan yang ku usahakan paling cepat saat itu. Cukup satu tendangan saja. Kalau tendangan ini masuk dan dapat poin, maka aku yang menang!
Namun lawanku ini dari tadi sangat sabar dan memang tak pernah lengah sedikitpun, dengan defensif ia mampu menghindari tendanganku itu.
Celaka! Dengan tendangan barusan, pertahananku terbuka lebar! Lawanku bersiap untuk tendangan balasan, dan itu tendangan tercepatnya. Bagai melawan arus angin, aku menarik badanku, dan berhasil menghindari counter kick itu, lucky! Dan tak berhenti di saat itu, aku langsung menendang balik dengan teknik dolio chagi-ku. Malangnya, tendangan itu juga meleset! Dan lawanku tampaknya tak berniat untuk membalas tendanganku barusan. Jadi kami pun perlahan mulai menjauh menjaga jarak, kembali ke posisi semula.
Ah, yang tadi hampir saja! Tak kusangka sesulit ini mendapatkan satu poin pun dari lawanku ini. Baiklah, aku tak boleh kalah! Ayo kita mulai ini sekali lagi!
Aku pun bersiap untuk tendanganku yang berikutnya. Disaat ku mulai melangkah untuk maju, sang wasit dengan tiba-tiba mengehentikan langkahku! Aku pun terheran. Ada apa ini? Rupanya keputusan para juri untuk menyudahi babak ini. Mereka berpendapat bahwa babak ini sudah menyita banyak waktu, sedangkan masih banyak sederet pertandingan-pertandingan yang masih menunggu.
Waktunya nggak cukup. Jadi kami putuskan kamu yang menang,” ujar salah satu juri seraya menunjuk kepadaku. “Kamu memang belum dapat satu poin pun, tapi tendanganmu yang terakhir tadi, tadi udah kena body-nya kan.. Memang itu tadi kami lihat cuma nyerempet dikit, tapi kami rasa itu sudah cukup. Lagipula dari tadi kan kamu yang agresif nyerang terus. Selamat!”
Sebenarnya aku masih bingung dengan keputuan juri waktu itu. Tapi yang ku tahu bahwa saat itu aku menang! Dan aku tak peduli lagi. Aku menang! Ini pertandingan pertamaku, jujur gugup sekali waktu itu. Tapi aku menang! Rasanya seperti melayang, hehe.
Semua penonton kembali rame bersorak-sorai. Aku mendengar kembali yell-yell dari team-ku, mereka menyanyikannya dengan penuh semangat pikirku. Di sana aku melihat Hero. Dia pun tersenyum, mengepalkan tangannya ke atas. Aku pun tersenyum. Aku lega, karena hampir selangkah lagi bisa menepati janji kemenangan kita berdua tadi pagi, hehe.
Sang wasit menggandeng tangan kiriku, menariknya ke atas serasa berkata, “Pertandingan pertama sesi kedua Fly Putra Junior dimenangkan Radiynal dari sudut biru!” Yak! Aku menang! Dan seketika itu ku merasakan lagi sakitnya pergelangan tangan kiriku, yang semula tadi ku lupakan. Rasanya sakit sekali. Rasa sakitnya kembali menusuk-nusuk. Aku takut, ada apa gerangan dengan tanganku ini… 
-----------------------------------------------------------------------------------------
Aku sudah berbaring di tempat yang sudah disediakan para panitia. Pelatih sudah berkali-kali menyemprotkan alatnya ke bagian tanganku yang sakit tadi, sangat dingin. Rasa sakit itu sedikit terkalahkan dengan sensasi yang sangat dingin itu. Nia temanku, dia juga salah satu dariteam-ku, dia yang bertugas menjagaku beristirahat di ruangan saat itu. “Wah nggak nyangka ya Rad, pertandinganmu tadi sampe babak sudden death segala. Yang seperti itu kan jarang banget. Pertandinganmu tadi seru banget lho! Hehe.”
“Iya, hehe,” aku cuma nyengir. “Aku juga beruntung tadi bisa menang.”
Tapi sumpah tadi kamu keren banget lho! Hehe. Gokil banget! Sampe loncat-loncat kayak gitu, hehe.”
Iya iya, hehe,” aku hanya bisa nyengir. “Tapi tadi pelatih bilang nggak perlu loncat-loncat kayak gitu. Kata pelatih tadi useless banget. Toh kalo waktu loncat-loncat tadi tendanganku bisa masuk, menurut peraturan ternyata nggak di hitung dapet poin, jadi percuma.”
“Heeee gitu ya. Eh, gimana tanganmu sekarang? Masih sakit? Mau tak pijat ta?”
“Eh ngga usa deh uda baikan kok. Lok kamu pijetin, takutnya ntar malah tambah parah deh, hehe.”
Yeeee. Ya uda deh. Di kasih perhatian kok malah gitu.. ckck.”
“Hehe. By the way, gimana pertandingannya Hero? Aku kan ga bisa liat tadi. Dia menang terus kan? Gimana, gimana?” tanyaku tak sabar. Sehabis cederaku tadi, aku langsung absen dari melihat bagaimana jalannya pertandingan-pertandingan selanjutnya. Sudah lama aku beristirahat di sini. Dan Hero, seharusnya ia sudah melewati dua pertandingan selama aku disini.
“Nah itu dia. Hero, pertandingan yang kedua dia menang mudah. Tapi yang ketiga dia kalah Rad. Sayang sekali.” Aku tak percaya dengan jawaban Nia. Hero kalah? Hero yang seperti itu hebatnya bisa kalah? Lalu lawannya seperti apa kok dia bisa kalah. Wah, wah, sayang sekali. “Padahal sebentar lagi dia bisa masuk final.”
“Hayo-hayo yang lagi berduaan!” sela sang pelatih tiba-tiba. Kami terkejut, karena tidak menyadari kehadiran beliau sebelumnya. “Tanganmu sekarang gimana Rad?” pelatih kembali menanyakan keadaanku. “Sebentar lagi pertandinganmu dimulai. Masih bisa lanjut kan?”
Aku segera bangkit dari tidurku, “Siap!”
“Bagus. Ayo sekarang kamu lakukan pemanasan lagi. Semangat ya! Kalau yang ini bisa menang, berarti kamu masuk final. Kalau kamu uda masuk final, kalah pun minimal uda dapet juara dua, lumayan kan.. Apalagi kalau bisa menang, berarti juara satu Rad! Ayo bawa nama Antartika! Semangat!” Pelatih pun meninggalkan kami berdua, namun motivasi pelatih barusan terus bergaung di telingaku, semakin membakar semangatku. Yak, aku siap!
“Rad, hati-hati ya. Tanganmu itu ada kemungkinan retak tulang. Hati-hati waktu pertandingan nanti, jangan bikin lukamu itu tambah parah lagi..” Nia kembali mengingatkanku akan cederaku yang satu ini, dia memang baik. Aku hanya tersenyum, sementara Hero pun datang menghampiri kami.
“Rad, maaf ya. Yang tadi aku kalah. Maaf, kita jadi nggak bisa ketemu di final.”
Kasihan Hero. Aku tahu bagaimana panas semangatnya untuk meraih juara kali ini. Aku tahu bagaimana kerasnya latihan yang ia jalani setiap hari, hanya untuk menghadapi pertandingan kali ini. Jika dibandingkan denganku, aku hanya beruntung. “Iya neh, gimana kamu itu bro. Padahal aku bakalan nunggu kamu di final, hehe,” nyatanya sekarang aku masih di semi-final, belum di final kan. Tapi aku tetap optimis, hehe.
“Maaf Rad..” tampaknya Hero benar-benar menyesal akan kekalahannya ini. Ia pun masih menyesal karena tak bisa menepati janji kami berdua.
“Ya udahlah, gapapa kan,” aku berusaha menghiburnya. “Kita akan membawa nama harum sekolah kita Antartika dalam kejuaraan kali ini. Juara satu Fly Putra, biar aku saja yang meraihnya. Oke?”
“Oke! Janji ya!” pinta Hero kembali bersemangat.
Kami bertiga semua tertawa. Panasnya semangat pun kembali hadir merasuki aliran darahku. Aku sudah terlanjur berjanji kepada mereka, jadi aku tak boleh mengecewakan mereka. Semangat!
Suara speaker sang juri yang bergaung diseluruh gedung itu memecahkan tawa kami. “Pertandingan terakhir semi-final Fly Putra di sisi merah: Radiynal dari SMA Antartika, berhadapan dengan Bagas di sisi biru: dari SMAN 4 Sidoarjo. Para peserta yang dipanggil harap segera memasuki arena pertandingan.”
Aku pun bergegas ke tengah arena. Para penonton, wasit, juga dengan lawanku, semuanya sudah menungguku disana. Aku pun meniti langakahku menuju ke tengah arena, mengucapkan salam pada wasit dan lawanku itu, serta siap di posisiku. Sambil menyatukan kepalan kedua tangannya, sang wasit tersenyum kepada kami berdua. Beliau menginginkan pertandingan yang lancar dan sportif. “FIGHT!”
Para penonton mulai bersorak-sorai ramai sekali seperti biasanya. Yell-yell yang dilantunkan team-ku pun tak kalah kerasnya. Semuanya bersemangat, aku pun bersemangat, begitu pula dengan lawanku. Tak kusangka, begitu sang wasit menyatakan ‘silahkan bertarung’, dia langsung maju menerjang dengan berbagai kombo-kombo tendangannya! Aku memang cenderung terpojok waktu itu. Aku agak terkejut, lawanku yang satu ini jelas-jelas beda banget dengan lawanku sebelumnya yang cenderung selalu defensif. Tapi aku tak mau kalah. Siapapun lawanku, aku akan terus berjuang! Semangat!
Tapi inilah kenyataan. Semakin waktu berlalu, semakin ku terpojok dengan kombo-kombonya, yang memang terus terang sulit untuk ku serang balik. Aku tak boleh gegabah, karena aku tak mau kecolongan satu poin pun. Aku harus hati-hati kalau mau menyerang balik, karena kecepatan tendangan lawanku ini bukan main, aku memang kalah banding. Apalagi di akhir babak kedua waktu itu, di waktu lawanku, entah sengaja atau tidak, dia menendang tangan kiriku, tepat di bagian yang masih sakit!
Aku pun menjerit. Bagaikan ribuan lebah yang menyengat tepat ke satu titik itu. Perih yang begitu hebatnya! Sangat sakit! Tubuhku langsung terkapar tak kuat menahan rasa sakit itu.
Aku tak ingat begitu jelas saat-saat itu. Mataku hanya bisa terpejam, rasa sakit itu sungguh begitu dalam. Ku dengar sang wasit menghentikan pertandingan. Para penonton pun sunyi. Banyak yang menghampiriku saat itu. Dan pada akhirnya, seseorang membopongku menuju ke ruang tempat ku beristirahat tadi…
-----------------------------------------------------------------------------------------
“Semuanya, maaf. Aku juga kalah.”
Seluruh anggota team berkumpul mendengarkanku saat itu. Mereka khawatir dengan keadaan tanganku. “Sudahlah tak apa-apa. Jangan dipikirin terus, ntar malah kamu stres,” hibur Pelatih dan kembali menyemprotkan sesuatu dari alatnya yang berkali-kali sudah digunakannya padaku tadi. Sensasi dingin yang begitu hebat kembali menyelimuti bagian tanganku yang sakit. “Bagaimana rasanya sekarang?”
“Dingin,” jawabku polos. Aku tak mau semakin membuat khawatir semuanya.
“Permainan kamu tadi sudah cukup. Sebenarnya bukan kemenangan yang aku cari, tapi semangat saat bertanding, juga sportifitas dalam bermain. Itu yang terpenting,” Pelatih kembali menghiburku. “Lagipula kamu kan sudah bisa masuk semi-final, padahal baru pertama kali ini kan kamu ikut main. Itu sudah cukup membanggakan kok. Semangat!”
Aku hanya bisa terdiam. Ternyata aku gagal menyabet gelar juara satu ataupun juara dua seperti impianku. Dan itu hanya karena cedera seperti ini! Sial! Padahal tinggal sedikit lagi. Jujur waktu itu aku juga sedikit menangis. Aku menangis bukan karena aku kalah, melainkan aku tak kuat menahan betapa sakitnya tanganku waktu itu.
Bagaikan membaca pikiranku saat itu, sang pelatih seraya berkata, “Sudah tak apa-apa. Tanganmu itu kemungkinan hanya retak. Setelah semua ini berakhir, aku akan langsung mengantarmu ke rumah sakit terdekat.”
“Ayo mana semangat tadi Rad!” Nia juga berusaha menghiburku. “Toh kamu bisa pulang dengan gelar juara tiga kan..”
Hah? Juara tiga? Bagaimana bisa?
“Yang penting kan kamu berhasil menepati janjimu tadi. Memang nggak dapet juara satu, tapi yang penting kan dapat juara.. Ya kan..” Nia kembali melanjutkan. “Ayo semangat dong!”
-----------------------------------------------------------------------------------------
Upacara penutupan kejuaraan itu pun segera berlangsung dengan meriah. Penyerahan piala bagi para pemenang dengan segala souvenirnya. Dari kejuaraan ini, team-ku berhasil membawa pulang: tiga emas, enam perak, dan dua perunggu. Tentang diriku yang mendapatkan juara tiga, itu karena lawanku yang di semi-final waktu itu, ternyata berhasil menyabet gelar juara satu. Semuanya memang serba beruntung.
Begitulah. Sebuah kisahku yang tak akan terlupa untuk beberapa tahun kedepan. Ini karena dokter menyarankan agar tidak menggunakan tangan kiriku itu, untuk pekerjaan-pekerjaan yang berat selama beberapa tahun mendatang (seperti mengangkat beban-beban yang berat). Takutnya kalau lukaku ini nanti kembali kambuh.
-----------------------------------------------------------------------------------------

No comments:

Post a Comment


Ayo download Raynote (PDF) yang terbaru disini!

Browse Raynote (PDF) yang anda inginkan disini!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...